logo-01.png
kupu kupu 2-01.png
Cerita Tyasadi Sunarjati, Terjerat Stigma hingga Dukungan Keluarga Setelah Bebas (Bagian II)
D75_7384-2.jpg

Sumber: Dokumentasi Foto Pribadi Tyasadi Sunarjati

Setelah menjalani masa hukuman di Lapas Pemuda Kelas IIA Tangerang, Tyas terharu lantaran menyadari bahwa keluarga adalah satu-satunya yang senantiasa bertahan bersamanya dalam keadaan sulit sekalipun. Tyas dan keluarga bersama perwakilan pihak lapas menuju pengadilan untuk mengurus administrasi pembebasan.

 

“Dia (petugas lapas) urus surat-surat, dia keluar, selesai. (Petugas bilang) ‘Dah, Tyas kamu bebas, terima kasih’. Saya bilang, ‘Sama-sama Pak Satria’. Di situ nunggu Ibu saya sama kakak, serah terima, terus kita ke Indomaret depan pengadilan beli sabun, sikat gigi, shampo dan sebagainya, hahaha,” kata Tyas tertawa lepas.

 

Tyas merasa hari kebebasannya bukan hari baru, lantaran dirinya sudah berusaha bangkit sejak dari dalam lapas. Beberapa waktu setelah keluar lapas, lulusan studi manajemen ini langsung tancap gas, menghubungi salah satu kliennya yang meminta Tyas untuk memotret pernikahan anaknya. Klien tersebut merupakan salah satu klien setia yang tidak mempermasalahkan persoalan hukum yang pernah menjeratnya.

 

“Ada pemoretan wedding itu (klien) nunggu saya keluar dulu baru resepsi. Can you imagine that? Itu klien lama, anaknya mau nikah. Yang udah percaya dan nyaman difoto saya. Itu first project pertama keluar, saya ke Kalimantan,” tuturnya.

 

Tyas menyadari ada beberapa klien atau pihak yang bekerja sama dengannya memutuskan hubungan lantaran Tyas terjerat masalah hukum dan masuk penjara. Perkara stigma dari berbagai pihak sempat menghantam Tyas. Namun ia bersyukur, masih banyak klien atau pihak lain yang masih mendukungnya.

 

“Alhamdulillahnya masih ada yang percaya bahkan ada yang bilang aku enggak peduli ceritanya gimana, yang penting kamu tetap jadi fotografer saya., Ada salah satu desainer, dia yang menemukan saya ibaratnya,” cerita dia.

_D4T9820.jpg

Dukungan keluarga juga dinilainya sangat berarti. Pertama adalah sosok ibunya yang setiap Senin mendatanginya ke lapas dari Yogyakarta. Bagi Tyas, perjuangan sang ibu untuk mengunjunginya tidak mudah karena rute Yogyakarta-Jakarta lumayan jauh. Bahkan sempat kereta api yang ditumpangi ibunya tiba terlambat dan ia terancam tak bisa mengunjungi putra kandungnya saat itu. Dikarenakan petugas lapas mengetahui ibunya selalu berkunjung setiap Senin dan datang jauh dari Yogyakarta, mereka mengizinkannya menemui Tyas.

Sumber: Dokumentasi Pribadi Tyasadi Sunarjati

“Itu support ibu saya, tiap minggu. Saya udah larang, (dengan bilang) ‘Enggak usah lah, Bu. Ibu sudah tua, kan. (Habiskan) biaya juga. Kata Ibu, ‘Udah enggak papa, yang penting ketemu anak’. Pernah cuma sekali enggak dateng karena sakit,” kenang Tyas.

Sementara dukungan sang istri adalah komitmennya dalam menjaga hubungan dengan dirinya serta mengurus anak. Sebagai seorang suami dan ayah, dua hal itu sudah sangat cukup. Sebab, merawat hubungan rumah tangga ketika salah satu pasangan terjerat masalah hukum tidak gampang. Cukup banyak warga binaan yang harus berpisah dengan pasangannya lantaran mereka mendekam di lapas.

 

“Istri saya sempat hancur, brokenhearted waktu itu. Saya bilang, ‘Bubu (sapaan untuk istri) kalau enggak kuat dan mau move on, monggo. Kamu bisa kirim surat cerai, selesai. Anak pasti sama kamu’. Ya enggak mungkin hakim ngasih hak asuh anak ke ayahnya yang lagi dipenjara,” ujarnya.

 

Meski demikian tawaran Tyas tak membuat istrinya memutuskan hubungan rumah tangga. Mereka berdua justru menjadi pasangan yang saling menguatkan. Salah satu peristiwa yang ia kenang ketika anaknya dibawa sang istri saat kunjungan ke lapas. Tyas menitikan air mata melihat anaknya.

 

“Ketika (anak) lihat saya itu, kayak nangis kan, dia nangis ketakutan, karena seperti enggak kenal. Tapi satu momen yang masih saya syukuri, saya masih bisa azankan dia pas lahir, saya yang gendong dia dari perut ibunya..Dan ketika ada kejadian seperti ini ya, come on, kita harus kuat. Satu hal yang saya apresiasi dari istri saya itu tadi, dia bisa sabar, bisa irit uang, enggak neko-neko, itu cukup buat saya di sini (di lapas saat itu),” katanya.

 

Kini Tyas enggan terlibat lagi dalam permainan forex. Ia memilih menjalani hidup yang lebih baik bersama keluarganya dan konsisten berkarya di bidang fotografi dan videografi.

OUR CONTACTS

icon contact-01.png

The East Tower lt. 33

Jl. DR. Ide Anak Agung Gde Agung No. 2 

RT.5/RW.2, Kuningan, Kuningan Tim., Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12950

icon contact 2-01.png

+62 21 579 00701

icon contact 3-01.png
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • Instagram